Pterygium menjadi salah satu penyakit mata yang jarang didengar oleh orang-orang. Sebab ia memang tidak sepopuler katarak atau kelainan refraksi. Kalau kelainan refraksi seperti miopia, hipermetropi, dan astigmatisme, Anda pasti tahu kan ya?
Nah, agar Anda mengetahui soal penyakit mata ini, langsung saja kita kupas mulai dari definisi, gejala, penyebab, dan cara mengobatinya. Yuk simak!
Apa Itu Pterygium?
Pterygium (pterigium) berasal dari bahasa Yunani yakni pterygos yang artinya sayap. Nama ini sesuai dengan gambaran penyakitnya yang menyerupai sayap.
Secara istilah, pterigium adalah kelainan klinis berupa jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga pada limbus kornea. Dengan bahasa yang lebih sederhana, pterigium adalah penyakit mata yang ditandai dengan tumbuhnya selaput pada bagian putih bola mata yang bisa mencapai kornea.
Penyakit mata ini bisa terjadi pada salah satu mata saja atau kedua mata sekaligus. Kendati patofisiologi penyakit ini belum pasti, sejumlah penelitian menemukan adanya proses degenerasi dan proliferasi serta kerusakan jaringan akibat paparan kronik sinar matahari.
Populasi orang yang terkena penyakit mata ini bervariasi. Ia lebih mudah ditemukan pada negara atau wilayah dengan iklim panas, menandakan pengaruh paparan kronik sinar matahari. Di Indonesia, penderita pterygium sebesar 8,3% dan jumlah tertingginya terdapat di Provinsi Bali.
Baca juga: Apa Itu LASIK
Apa Saja 4 Stadium Pterigium?
Pterygium selaput segitiga yang menutup Sklera mata ini tergolong menjadi 4 tingkat stadium, antara lain:
1. Stadium I (Infiltrasi Ringan)
- Ciri Utama: Pterigium hanya mencapai batas limbus (perbatasan kornea dan sklera).
- Dampak: Umumnya asimtomatik (tanpa gejala) atau hanya menimbulkan iritasi ringan. Stadium ini seringkali memerlukan observasi rutin.
2. Stadium II (Infiltrasi Sedang)
- Ciri Utama: Pterigium telah melintasi limbus dan menginvasi kornea, namun invasi tersebut kurang dari 2 mm dari limbus.
- Dampak: Gejala iritasi mulai meningkat. Meskipun penglihatan biasanya belum terganggu, astigmatisme (mata silinder) sudah bisa mulai terdeteksi akibat tarikan jaringan pada permukaan kornea.
3. Stadium III (Infiltrasi Berat)
- Ciri Utama: Jaringan pterigium telah menginvasi Kornea antara 2 mm hingga 4 mm dari limbus.
- Dampak: Astigmatisme semakin signifikan. Pasien mungkin mulai merasakan penurunan kualitas penglihatan atau distorsi visual, terutama jika pertumbuhan sudah mendekati zona pupil. Pada stadium ini, indikasi untuk intervensi bedah menjadi lebih kuat.
4. Stadium IV (Infiltrasi Ekstensif)
- Ciri Utama: Pterigium telah menjalar hingga mencapai lebih dari 4 mm dari limbus, atau bahkan telah mencapai sumbu penglihatan (pupil).
- Dampak: Gangguan penglihatan yang serius dan permanen dapat terjadi karena obstruksi langsung pada area sentral penglihatan
Pterygium Apakah Bisa Sembuh?
Keluhan pada selaput segitiga pada mata ini masih bisa disembuhkan, namun sebaiknya proses penanganan harus segera dilakukan saat stadium I. Solusi paling efektif untuk menyembuhkannya adalah dengan melakukan tindakan bedah untuk mengangangkat jaringan selaput segitiga pada Kornea mata.
Apakah Pterygium Bisa Sembuh Dengan Obat Tetes Mata?
Pterygium tidak dapat disembuhkan dengan obat tetes mata biasa apalagi sudah pada tahap stadium IV. Penggunaan obat tetes mata (seperti air mata buatan atau steroid ringan) hanya berfungsi sebagai manajemen simptomatik.
Obat-obatan ini efektif untuk meredakan kemerahan, iritasi, dan peradangan, namun tidak dapat menghilangkan jaringan daging yang sudah tumbuh atau menghentikan progresifitasnya secara permanen.
Gejala Pterygium
Pada fase awal atau derajat ringan, gejala penyakit mata ini tidak terasa. Seiring waktu dan semakin parah, keluhan utama adalah mata merah berulang yang disertai dengan iritasi pada permukaan mata.
Jadi, secara rinci, gejala pterigium meliputi:
- Mata merah berulang
- Iritasi pada permukaan mata
- Tumbuh selaput tipis di permukaan bola mata
- Mata terasa mengganjal
- Mata terasa berpasir
- Mata perih
Pada kondisi sedang maupun berat, pterigium dapat mengakibatkan penekanan pada kornea sehingga terjadi distorsi kornea dan menimbulkan astigmatisme alias mata silinder.
Penyebab Pterygium
Penyebab penyakit mata ini belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini lebih banyak terjadi pada mereka yang sering melakukan aktivitas di luar ruangan dan terpapar sinar matahari berlebihan. Sehingga kesimpulan sementara, penyebab pterigium adalah paparan kronik sinar matahari.
Para ahli menduga, paparan ultraviolet kronik merupakan dasar penyebab terjadinya pterygium. Jaringan pterygium merupakan jaringan ikat fibroblast dan pembuluh darah yang berproliferasi dari limbus ke arah kornea. Kerusakan sel punca limbus menyebabkan jaringan dari konjungtiva menyeberang tumbuh ke arah kornea.
Faktor pemicu berikutnya adalah mata kering. Selain itu, pasir, debu, asap, dan angin juga bisa meningkatkan risiko terkena penyakit mata ini.
Baca juga: Syarat LASIK Mata
Cara Mengobati Pterygium
Ada dua cara menangani penyakit ini yakni dengan terapi medikamentosa dan terapi bedah. Jika tidak menimbulkan keluhan, umumnya pterigium tidak membutuhkan penanganan khusus.
Untuk mengatasi mata merah dan iritasi akibat penyakit ini, pengobatan dengan obat tetes atau salep mata yang mengandung kortikosteroid sudah cukup. Atau pelumas untuk meredakan peradangan. Inilah terapi medikamentosa.
Namun, untuk memastikan bahwa gejala yang kamu alami benar merupakan pterygium, perlu dokter mata untuk melakukan penegakan diagnosis. Selain melakukan anamnesis, dokter mata juga akan memeriksa selaput tipis pada permukaan bola mata.
Umumnya, dokter menggunakan beberapa alat seperti slit lamp dan kaca pembesar. Jika perlu, dokter juga akan mengambil foto mata untuk penegakan diagnosis lebih detail.
Jika pterigium tidak bisa ditangani dengan terapi medikamentosa, tindakan operasi pterigium dapat dilakukan. Terutama jika kemampuan penglihatan mengalami penurunan.
Operasi ini adalah bedah eksisi jaringan pterygium. Indikasi terapi bedah ini dibagi menjadi empat:
- Penurunan tajam penglihatan
- Inflamasi berulang
- Gangguan gerak bola mata
- Indikasi kosmetik
Indikasi kosmetik maksudnya operasi dengan tujuan utama keindahan atau kecantikan. Sebab penyakit mata ini bisa mengurangi keindahan mata, sehingga operasi pterygium membuatnya kembali tampak seperti sedia kala.
Awalnya, teknik bedah pterigium dilakukan dengan meninggalkan sklera yang terbuka pasca eksisi. Namun, cara ini memiliki angka rekurensi yang sangat tinggi. Oleh karenanya, setelah eksisi, perlu tindakan lanjutan dengan penutupan sklera yang terbuka menggunakan conjunctival autograft atau conjunctivolimbal autograft.
Nah Itulah penjelasan mengenai pterigium yang perlu Anda ketahui. Jika Anda terkena gangguan yang serupa atau mata minus, Anda bisa langsung datang ke National Eye Center, sebagai pusat lasik Surabaya yang terpercaya di Indonesia.
Dengan berkonsultasi pada dokter profesional, Anda akan mendapatkan penanganan yang terbaik untuk kesehatan mata Anda yang optimal.
Baca juga: Retinoblastoma: Definisi, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati
Referensi:
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
Universitas Indonesia Faculty of Medicine. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: UI Publishing; 2020
Sjamzu Budiono, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: Airlangga University Press; 2013
Simak video lain seputar kesehatan mata melalui channel NEC




















