Operasional: Senin – Jumat | 09:00 – 20:00 WIB – Sabtu | 09:00 – 16:00 WIB

Gejala, Penyebab, Diagnosa, Perawatan Sindrom Horner

Ditinjau oleh

dr. Bobby Krisna Putra, SpM

Terakhir diperbaharui pada

5 November 2025

Bagikan

Sindrom Horner

Sindrom Horner adalah kondisi langka yang memengaruhi sistem saraf otonom dan menimbulkan gangguan pada mata serta otot wajah. Meskipun tidak membahayakan jiwa secara langsung, Sindrom Horner sering menjadi tanda adanya masalah medis yang lebih serius, seperti tumor, stroke, atau cedera saraf. 

Apa Itu  Sindrom Horner?

Sindrom Horner

Sindrom Horner, juga dikenal sebagai okuler simpatetik paresis, adalah kelainan neurologis yang terjadi akibat gangguan jalur saraf simpatis dari otak hingga ke wajah dan mata. Gangguan ini menyebabkan kombinasi gejala khas seperti ptosis (kelopak mata turun ke bawah), miosis (pupil mengecil), dan anhidrosis (berkurangnya produksi keringat di satu sisi wajah).

Secara anatomi, saraf simpatis yang menuju ke mata melewati jalur panjang mulai dari otak, sumsum tulang belakang, hingga leher dan wajah. Jika ada kerusakan atau hambatan di salah satu titik jalur tersebut, maka munculah Sindrom Horner.

Gejala Sindrom Horner 

Tanda-tanda Sindrom ini bisa terlihat jelas pada wajah dan mata pasien. Gejala yang sering muncul antara lain:

Sindrom Horner

  1. Ptosis ringan → Kelopak mata atas terlihat turun, sedangkan kelopak bawah sedikit terangkat.Sindrom Horner
  2. Miosis → Pupil pada sisi yang terkena lebih kecil dibandingkan sisi normal.
  3. Anhidrosis → Berkurangnya keringat di salah satu sisi wajah.
    Sindrom Horner
  4. Perbedaan warna iris (heterokromia) → Umumnya terlihat pada anak-anak dengan Sindrom Horner bawaan.
  5. Mata terlihat cekung (enophthalmos) meskipun sebenarnya bola mata tidak berubah posisi.
  6. Perbedaan reaksi pupil terhadap cahaya dan kegelapan → Pupil yang terkena akan lebih lambat melebar dalam kondisi gelap.

Gejala-gejala ini biasanya hanya terjadi pada satu sisi wajah, sehingga wajah pasien tampak tidak simetris.

Baca Juga : Apa Itu Sindrom Duane (Duane Syndrome) pada Mata?

Penyebab Sindrom Horner 

Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya Horner Sindrom, mulai dari kelainan bawaan hingga penyakit serius. Beberapa penyebabnya meliputi:

  1. Cedera leher atau dada → Trauma akibat kecelakaan bisa merusak saraf simpatis.
  2. Stroke → Aliran darah yang terganggu di batang otak dapat mempengaruhi jalur saraf simpatis.
  3. Tumor di leher atau dada bagian atas → Misalnya tumor Pancoast di paru-paru.
  4. Aneurisma atau kelainan pembuluh darah → Dapat menekan jalur saraf simpatis.
  5. Operasi atau prosedur medis → Tindakan di leher atau dada berisiko menimbulkan kerusakan saraf.
  6. Migrain klaster → Beberapa kasus migrain berat disertai gejala mirip Sindrom Horner sementara.
  7. Kelainan kongenital → Sindrom Horner bawaan bisa terjadi akibat trauma lahir atau kelainan saraf sejak bayi.

Dengan kata lain, Sindrom ini bukanlah penyakit utama, melainkan gejala dari masalah medis lain yang mendasarinya.

Baca Juga : Lasik

Diagnosis Sindrom Horner 

Sindrom Horner

Untuk memastikan apakah pasien mengalami Horner Sindrom , dokter mata biasanya melakukan beberapa tahapan pemeriksaan, antara lain:
Sindrom Horner

  1. Pemeriksaan fisik mata dan wajah → Mengevaluasi perbedaan pupil, kelopak mata, dan keringat.
    Sindrom Horner
  2. Tes farmakologis → Obat tetes mata khusus (misalnya apraclonidine atau kokain) digunakan untuk melihat reaksi pupil.
    Sindrom Horner
  3. Neuroimaging (MRI/CT scan) → Membantu mendeteksi adanya tumor, stroke, atau cedera pada jalur saraf simpatis.
  4. Tes darah dan fungsi saraf → Jika dicurigai ada kelainan sistemik yang mendasari.

Diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting, karena Sindrom Horner bisa menjadi tanda adanya kondisi medis serius yang memerlukan penanganan segera.

Baca Juga : Sindrom Mata Kering: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

Pengobatan Sindrom Horner 

Tidak ada pengobatan khusus untuk Sindrom Horner itu sendiri. Perawatan berfokus pada penyebab yang mendasarinya, misalnya:

  • Jika penyebabnya adalah tumor, maka pasien mungkin membutuhkan operasi, radioterapi, atau kemoterapi.
  • Jika akibat stroke, pengobatan difokuskan pada pemulihan aliran darah dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
  • Jika karena cedera, pasien mungkin memerlukan rehabilitasi atau tindakan bedah.
  • Pada migrain klaster, terapi obat dapat mengurangi gejala yang muncul.

Untuk gejala kosmetik seperti ptosis ringan, biasanya tidak memerlukan perawatan khusus kecuali sangat mengganggu penampilan atau fungsi penglihatan.

Kesimpulan

Sindrom Horner adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan gejala khas pada mata dan wajah, yaitu ptosis, miosis, dan anhidrosis. Meskipun terlihat ringan, sindrom ini sering kali merupakan tanda dari masalah serius seperti stroke, tumor, atau cedera saraf.

Diagnosis yang cepat melalui pemeriksaan klinis, tes farmakologis, dan imaging sangat penting untuk menentukan penyebab pastinya. Pengobatan difokuskan pada kondisi yang mendasari, bukan pada sindrom itu sendiri. 

Oleh karena itu, jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala mirip Sindrom Horner, segera konsultasikan ke dokter  mata atau ke dokter spesialis saraf untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Simak informasi lainnya pada video di bawah ini ya