Bagi sebagian besar orang mungkin tidak menyadari bahwa ternyata kualitas tidur sangat berpengaruh terhadap kesehatan saraf optik atau mata. Kurangnya wawasan terkait hubungan Glaukoma dan gangguan tidur menjadi salah satu contoh abai nya masyarakat tentang kualitas tidur sehari-hari.
Tentu hal ini perlu jadi perhatian penting. Pasalnya Glaukoma bukanlah penyakit mata ringan seperti mata panda yang juga punya kaitan dengan kualitas tidur. Glaukoma lebih berpotensi menyebabkan kebutaan meski tidak secara langsung.
Baca juga: Katarak
Fakta Medis: Kaitan Glaukoma dan Gangguan Tidur
Pernyataan bahwa gangguan tidur punya keterkaitan dengan Glaukoma tentu tidak bisa didasarkan dari opini masyarakat semata. Kondisi ini memiliki fakta yang berdasarkan pada data. Ada beberapa penelitian medis yang mengungkap hubungan Glaukoma dan gangguan tidur.
Salah satu contohnya ada penelitian yang dilakukan oleh Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional pada tahun 2005-2008. Penelitian atau survei ini melibatkan hampir 4500 orang dengan kriteria campuran, ada yang mengalami Glaukoma, gangguan hilangnya penglihatan, dan ada juga yang tidak mengalami masalah mata.
Survey tersebut diperkuat dengan sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap penderita Glaukoma dengan rata-rata usia di atas 40 tahun. Penelitian ini juga turut mengkaji data survey Kesehatan dan Gizi Nasional yang telah dijelaskan sebelumnya.
Penelitian tersebut juga melibatkan penggunaan alat medis seperti fotografi fundus untuk memastikan kondisi saraf optik peserta penelitian. Setidaknya ada 3 fakta secara garis besar yang diperoleh dari penelitian dan survey tersebut, yaitu:
1. Sleep Apnea dan Tekanan Intraokular
Sleep Apnea sering juga dikenal dengan OSA atau Obstructive Sleep Apnea. Gangguan tidur Apnea ini berpotensi menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan tubuh seperti Hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke.
Lebih dari itu, Sleep Apnea juga sangat mungkin menyebabkan seseorang menderita Glaukoma. Bahkan berdasarkan penelitian, orang dengan Sleep Apnea memiliki potensi 10 kali lebih besar untuk terkena Glaukoma Meskipun tidak ada kepastian alasan yang mendasarinya.
Baca juga: Mata Minus
2. Posisi Tidur Yang Berpengaruh
Orang yang tidur dalam posisi berbaring atau horizontal memiliki nilai TIO atau Tekanan Intraokular lebih tinggi dibandingkan dengan tidur dalam posisi duduk.
Pernyataan ini berdasar pada penelitian yang menganalisis dari pasien Glaukoma. Meskipun belum ada mekanisme pasti dari pernyataan tersebut, namun para peneliti menduga adanya keterkaitan dengan aliran darah yang ada pada sistem vena Episklera dan Koroid.
Namun terdapat penelitian dari Korea Selatan yang menyatakan bahwa penderita Glaukoma pada satu sisi matanya cenderung memiliki posisi tidur dengan mata ‘bergejalanya’ menghadap bawah. Penelitian ini mengaitkan hubungan Glaukoma dan gangguan tidur terkait posisi tidur dengan meningkatnya tekanan internal mata sehingga saraf optik lebih cepat mengalami kerusakan.
Baca juga: Terapi Mata Minus Anak
3. Kurang Tidur VS Glaukoma
Pola tidur ternyata memiliki keterkaitan dengan Glaukoma. Orang yang mengalami Glaukoma cenderung mengalami gangguan dalam pola tidurnya seperti sering merasa ngantuk di siang hari atau bahkan insomnia.
Selain itu ada juga kemungkinan seseorang mendapati resiko Glaukoma karena kualitas pola tidurnya. Orang yang tidur hanya dalam kurun waktu 3 jam atau bahkan kurang per-malamnya berpotensi 3 kali lebih tinggi untuk terkena Glaukoma dibandingkan dengan orang yang tidur 7 jam per-malamnya.
Namun orang dengan durasi tidur terlalu berlebihan juga bisa berpotensi terkena Glaukoma, yaitu durasi tidur 10 jam atau bahkan lebih.
Selain itu orang dengan penyakit Glaukoma bisa tertidur lebih cepat selama 9 menit atau bahkan kurang dari 9 menit saja dan bisa juga butuh waktu jauh lebih lama untuk tertidur, yaitu 30 menit atau bahkan lebih lama lagi. Pada survei ini juga diperoleh kaitan antara rasa mengantuk pada siang hari dengan penyakit Glaukoma.
Baca juga: Lasik
Gejala Glaukoma Yang Sering Muncul Saat Tidur

Sebenarnya secara umum gejala Glaukoma lebih sering dan lebih mudah dikenali saat mata beraktivitas. Namun pada beberapa kasus ada juga gejala Glaukoma yang muncul saat seseorang sedang tidur.
Hal ini sedikit banyak menunjukkan bahwa memang ada hubungan antara Glaukoma dan gangguan tidur. Beberapa diantara contoh gejala yang sering muncul saat tidur adalah:
- Mata merah saat sedang tidur atau ketika terbangun dari tidur. Hal ini bisa disebabkan karena adanya tekanan bola mata yang meningkat saat tidur.
- Mata rasanya lebih berat hingga merasa pegal pada area mata karena peningkatan tekanan intraokular mata.
- Sakit kepala saat tidur juga merupakan salah satu gejala yang sering muncul pada penderita Glaukoma.
- Mata sensitif terhadap sinar lampu atau cahaya matahari ketika bangun tidur.
Baca juga: Glaukoma-Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati
Tips Tidur Sehat Untuk Penderita Glaukoma
Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, gangguan tidur dan Glaukoma memiliki keterkaitan meskipun tidak selalu masalah tidur menyebabkan Glaukoma. Kendati begitu kualitas tidur harus tetap diperbaiki baik untuk penderita Glaukoma maupun orang yang saraf optiknya masih normal sebagai bentuk pencegahan.
Untuk lebih jelasnya, simak berikut ini beberapa tips tidur sehat yang bisa dijadikan sebagai kebiasaan perbaikan kualitas tidur:
1. Atur Posisi Tidur
Posisi tidur bisa sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkatan tekanan mata. Kepala tempat tidur bisa diatur lebih tinggi sekitar 30° untuk mengurangi resiko meningkatnya tekanan pada mata.
Namun untuk mengurangi resiko pada Glaukoma stadium lanjut, posisi tidur bisa diatur agak tegak pada posisi kepala hingga badan agar ada penekanan lebih signifikan terhadap tingkat tekanan intraokular mata.
Selain itu pastikan tidak tidur dengan posisi telungkup atau posisi miring ke salah satu sisi mata yang mengalami Glaukoma.
Baca juga: Katarak
2. Rutin Cek Tekanan Mata
Tingkat keparahan Glaukoma bisa melonjak lebih cepat bahkan tanpa dikenali gejalanya. Inilah mengapa sangat penting untuk melakukan cek tekanan mata secara rutin. Dengan mengetahui kondisi tekanan mata, setidaknya ada tindakan medis yang bisa dilakukan untuk memperlambat dampak Glaukoma tersebut.
3. Terapi Sleep Apnea
Selain mengatur posisi tidur dan rutin cek tekanan mata, penderita Sleep Apnea juga perlu melakukan terapi untuk meningkatkan kualitas tidur menjadi lebih baik. Pasalnya Sleep Apnea menjadi salah satu kebiasaan yang berpotensi meningkatkan tekanan mata dan pada akhirnya menjadi gangguan Glaukoma.
4. Kebiasaan Sebelum Tidur
Tidak hanya kebiasaan tidur, kebiasaan sebelum tidur juga perlu dijaga agar tidak menimbulkan resiko Glaukoma dan gangguan tidur yang lebih parah. Pastikan untuk tidak konsumsi kafein yang berpotensi meningkatkan tekanan intraokular. Kemudian rutinlah menggunakan obat tetes mata khusus Glaukoma jika memang dokter mata meresepkan obat tersebut.
Baca juga: Glaukoma Konginetal
Kapan Harus ke Dokter?
Saat mengalami gejala seperti mata kabur, sudut penglihatan menyempit atau gejala-gejala lain yang mengarah pada Glaukoma, sebaiknya lekas pergi ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang pasti.
Perlu diketahui beberapa gejala Glaukoma mungkin terasa mirip dengan gejala Miopi atau gangguan Refraksi, sehingga perlu pemeriksaan medis untuk memastikan diagnosa.
Baca juga: Katarak Lensa Premium
Selain itu jika mengalami Sleep Apnea atau kualitas tidur yang buruk lantas berpengaruh terhadap kenyamanan mata, maka segera konsultasi dokter mata untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Yang paling penting, pastikan untuk rutin periksa mata demi menghindari resiko adanya gangguan mata yang mungkin tidak dikenali dan menyebabkan efek yang buruk pada penglihatan mata.
Saksikan juga video kesehatan mata lainnya di channel NEC berikut:

















